IRGC Siapkan Operasi Besar Dalam Sejarah Republik Islam Iran , Respon Atas Serangan AS dan Israel

RADAR BERITA — Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan akan segera melancarkan operasi ofensif terbesar dalam sejarah Republik Islam sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).

Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa operasi militer “terberat dan paling menentukan” akan diarahkan ke wilayah serta pangkalan Amerika yang mereka sebut sebagai target sah. Pernyataan itu secara langsung ditujukan kepada pemerintah Amerika Serikat dan Israel.

“Iran tidak akan membiarkan darah pemimpinnya tertumpah tanpa balasan,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui media pemerintah Iran.
Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan besar dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Teheran menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa respons tegas.

Sementara itu, Supreme National Security Council (SNSC) atau Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan serangan gabungan AS-Israel merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara. Badan yang mengoordinasikan strategi pertahanan dan keamanan nasional Iran itu menyebut serangan udara menghantam sejumlah fasilitas pertahanan dan sipil di 24 provinsi.

SNSC juga menegaskan bahwa Iran dan sekutunya justru akan semakin tangguh dan bersatu dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai bentuk penindasan global. “Setiap agresi akan dijawab dengan kekuatan yang lebih besar,” tegas pernyataan tersebut.

Serangan tersebut terjadi hanya dua hari sebelum putaran keempat perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Wina. Sebelumnya, pembicaraan di Jenewa yang dimediasi Oman dilaporkan menunjukkan sejumlah kemajuan diplomatik.

Pada Minggu (1/3), pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Situasi ini dinilai semakin meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, dengan potensi dampak terhadap stabilitas global dan keamanan energi dunia.
 ( Red / Dha / Dbs )
Lebih baru Lebih lama