RADAR BERITA | Lampung Utara – Miris Proyek Revitalisasi SMP Negeri 4 Abung Selatan senilai Rp 1,4 miliar yang selesai akhir Desember tahun 2025 ternyata menyisakan hutang material pasir sebanyak delapan mobil. Kamis (16/4/2026)
Menurut Marni Warga Sribasuki Kecamatan Kotabumi kota mengungkapkan bahwa dirinya diminta mengirim material pasir untuk pembangunan sekolah SMPN 4 Abung Selatan hingga gedung tersebut selesai, akan tetapi pihak sekolah sampai saat ini tidak menyelesaikan kewajibannya.
Ia menjelaskan pasir yang dikirim kelokasi proyek mencapai puluhan mobil (rit) dengan harga satuan per mobil Rp 800 samapai Rp 1 jt dengan ketentuan setelah pasir sampai dilokasi dan diterima oleh pengawas proyek lalu diberikan nota untuk pengihan.
"Kalau ngirim pasir disekolahan ada puluhan mobil pak, tapi saya bingung kenapa kepala sekolah selaku pelaksana proyek kok enggak bayar pasir yang delapan mobil, saya cuma upahan, orang susah", katanya dengan mata berkaca-kaca pada sejumlah awak media.
Marni menambahkan Ia sudah berulangkali melakukan penagihan pasir delapan mobil tersebut akan tetapi pihak sekolah beralasan kalau Proyek sekolahan tidak pernah merasa memesan pasir, Marni berharap pada pihak pihak terkait Khususnya Panitia Pembangunan Revitalisasi SMPN 4 Abung Selatan segera menyelesaikan hutang material pasir miliknya.
"Saya minta pada ibu kepala sekolah segera lunasi sisa delapan mobil pasir yang belum dibayar, pasir itu betul-betul saya kirim", Ujarnya, seraya mengatakan pasir di bongkar dua mobil di kolam terus 6 Mobil disekolah.
Diberitakan sebelumnya Proyek Revitalisasi sekolah SMPN 4 Abung Selatan, dikerjakan secara Swakelola dengan pagu anggaran Rp 1,4 Miliar lebih,.diduga tidak sesuai dengan juklak juknis.
Berdasarkan penelusuran dilapangan dan narasumber yang dapat dipercaya proyek tersebut diduga banyak ketidak sesuaian dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), hal itu dapat dilihat nyata dari adukan semen yang dipakai 1 zak semen banding 12 pasir padahal menurut teknis adukan harus 1 banding 4.
Selain itu kondisi Mandi Cuci Kakus (MCK) terlihat sudah rusak dan tidak bisa digunakan bahkan yang lebih parahnya lagi keramik lantai seluruh gedung diduga menggunakan keramik Asalan.
Sampai berita ini ditayangkan kembali Kepala sekolah dan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) tidak merespon awak media saat dikonfirmasi terkait pemberitaan ini.( Red / Yon )