RADAR BERITA , Kota Metro — Pembangunan dan pengembangan RSUD Sumbersari terus menjadi perhatian publik. Di tengah sorotan terhadap keterbatasan sarana dan prasarana, pihak rumah sakit mulai menunjukkan langkah konkret melalui berbagai program pelayanan kesehatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan hasil investigasi reporting Radar Berita serta wawancara langsung dengan narasumber, Direktur RSUD Sumbersari, Dr. Hasril, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara bertahap dan berkelanjutan.
Sejumlah program inovatif pun telah dijalankan sebagai bentuk komitmen menghadirkan layanan yang lebih humanis dan mudah diakses masyarakat.
Salah satu program unggulan adalah Ambulans Jemput Sakit Pulang Sehat, yang diinisiasi oleh tim manajemen RSUD Sumbersari Bantul. Program ini menjadi bentuk pelayanan aktif rumah sakit dalam membantu masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan, khususnya bagi pasien yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
Selain itu, program Jum’at Berkah juga terus digulirkan, di mana ibu hamil mendapatkan pelayanan pemeriksaan kesehatan hingga USG secara gratis. Program ini berlaku bagi masyarakat umum maupun peserta BPJS sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak.
Tak hanya itu, RSUD Sumbersari juga meluncurkan program Bincang Sehat Sumbersari (BSS) sebagai wadah edukasi kesehatan kepada masyarakat dengan pendekatan komunikatif dan informatif.
Sementara itu, program Pelayanan Kesehatan Terpadu BAHAGIA turut dihadirkan sebagai upaya memperkuat layanan kesehatan yang terintegrasi dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Berbagai program tersebut menunjukkan adanya langkah progresif dalam peningkatan layanan, meskipun di sisi lain RSUD Sumbersari masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur, khususnya lahan dan fasilitas pendukung lainnya.
Memasuki 100 hari kerja Direktur RSUD Sumbersari, upaya pembenahan ini dinilai patut diapresiasi.
Namun demikian, penguatan dari sisi kebijakan dan dukungan anggaran tetap menjadi kebutuhan mendesak agar pengembangan rumah sakit dapat berjalan optimal.
Di sisi lain, aktivis MATTA Institute, Maya Dewi Larasti, turut memberikan sorotan tajam terhadap peran legislatif dalam pembangunan sektor kesehatan.
Ia menegaskan bahwa kesehatan merupakan hak dasar masyarakat yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan publik.
“Kesehatan adalah hak dasar bagi masyarakat. Seharusnya wakil rakyat tidak tinggal diam, tidak hanya duduk manis, apalagi sibuk pada kegiatan seremonial yang justru berpotensi menghamburkan uang negara,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini harus menjadi momentum bagi para pemangku kebijakan untuk lebih fokus pada solusi konkret.
Ia juga menyoroti bahwa manajemen RSUD Sumbersari saat ini tengah berjuang memberikan pelayanan terbaik di tengah berbagai keterbatasan yang ada, sehingga membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar wacana.
“Kenyataan seperti ini harus menjadi prioritas bersama. Bagaimana menciptakan solusi atas persoalan yang dihadapi RSUD Sumbersari, agar pelayanan kepada masyarakat bisa berjalan maksimal,” tambahnya.
Dengan sinergi yang kuat antara pihak rumah sakit, pemerintah daerah, dan legislatif, diharapkan RSUD Sumbersari dapat berkembang menjadi rumah sakit unggulan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, merata, dan berkeadilan bagi masyarakat.
( Redaksi )