RADAR BERITA , Kartasura -
Haul ke-300 Amangkurat IV menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar keturunan Wangsa Mataram Islam. Empat entitas penerus kejayaan Mataram—Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman—berkumpul dalam semangat persaudaraan di Petilasan Kraton Mataram Kartasura, Minggu (26/4/2026).
Pertemuan yang sarat makna ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga bentuk penghormatan mendalam kepada leluhur agung, Amangkurat IV, yang wafat tiga abad silam. Sebagai putra Pakubuwana I, Amangkurat IV merupakan salah satu mata rantai penting dalam sejarah panjang Wangsa Mataram Islam di Jawa.
Akademisi sekaligus keturunan trah Pakubuwono dan Hamengkubuwono, R. M. Teguh Supriyanto, menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya dan mempererat tali persaudaraan antaranggota keluarga besar Mataram. Menurutnya, tradisi nguri-uri budaya harus terus dirawat, sementara semangat ngumpulke balung pisah menjadi pengingat bahwa ikatan darah dan sejarah harus senantiasa dipererat.
Ia juga mengingatkan pentingnya memegang teguh falsafah luhur Jawa, mikul duwur mendem jero—menjunjung tinggi kehormatan para leluhur dengan mengangkat jasa-jasa mereka, sekaligus menutup rapat segala kekurangan yang pernah ada. Nilai ini, menurutnya, merupakan fondasi moral bagi setiap keturunan Mataram dalam menjaga marwah, adab, dan kehormatan keluarga besar.
Sementara itu, budayawan dari Trah Pakubuwono, GKR Koes Moertiyah Wandansari, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya dapat turut hadir dalam peringatan bersejarah tersebut. Perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu menyebut bahwa haul ini merupakan bentuk penghormatan kepada Sinuhun Amangkurat IV, yang memiliki nama kecil Raden Mas Suryaputra.
“Peringatan ini menjadi pengingat akan pentingnya merawat akar sejarah, memperkuat persaudaraan, dan memastikan warisan adiluhung Kraton Mataram tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Melalui pertemuan Trah Catur Sagatra ini, semangat pelestarian budaya, penghormatan terhadap leluhur, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan kembali diteguhkan.
Dari Kartasura, pesan luhur itu bergema: menjaga warisan Mataram bukan hanya tugas keluarga keraton, tetapi juga bagian dari upaya merawat identitas budaya bangsa. ( Raden Aria )