Opini Anak Negeri
'Suara Sumbang Tanpa Toa'
Oleh Yudha Saputra - Radar Berita Online
Ada kalanya sebuah kota perlu bercermin dengan jujur. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk menyadari bahwa ada hal-hal yang sedang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hari ini, banyak suara di tengah masyarakat yang merasakan satu hal yang sama: Kota Metro sedang tidak baik-baik saja.
Gejala itu terlihat dari berbagai dinamika yang muncul di ruang publik. Polemik kebijakan, kegaduhan di media sosial, hingga saling serang narasi yang justru lebih banyak diwarnai oleh kepentingan sesaat. Dalam situasi seperti ini, kebenaran sering kali tenggelam oleh riuhnya opini yang dibangun secara tidak sehat.
Yang lebih memprihatinkan, praktik menggiring opini melalui buzzer dan bisikan liar masih menjadi cara yang dipakai sebagian pihak untuk memengaruhi persepsi publik. Alih-alih membuka ruang diskusi yang sehat, cara seperti ini justru memperkeruh suasana dan menjauhkan masyarakat dari fakta yang sebenarnya.
Padahal, masyarakat Metro bukanlah masyarakat yang mudah diprovokasi. Warga kota ini dikenal rasional dan memiliki tradisi sosial yang cukup kuat. Mereka mampu menilai mana kritik yang tulus untuk perbaikan, dan mana narasi yang sekadar dibangun untuk menutupi persoalan.
Kota Metro sesungguhnya memiliki potensi besar. Sebagai kota pendidikan dan pusat jasa di Lampung, Metro memiliki sumber daya manusia yang cukup baik serta masyarakat yang aktif dalam kehidupan sosial. Namun potensi tersebut hanya bisa berkembang jika dikelola dengan kejujuran, keterbukaan, dan integritas.
Di sinilah pentingnya keberanian untuk mengatakan apa adanya. Pemerintahan yang sehat tidak alergi terhadap kritik. Justru kritik yang disampaikan secara jujur dan konstruktif adalah bahan bakar bagi perbaikan kebijakan. Begitu pula masyarakat dan media, yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar ruang publik tetap diisi oleh informasi yang benar dan berimbang.
Membangun kota tidak bisa hanya mengandalkan pencitraan. Tidak cukup pula dengan perang opini di media sosial. Kota dibangun dengan kerja nyata, transparansi, dan kesediaan semua pihak untuk duduk bersama mencari solusi.
Karena itu, jika hari ini Metro terasa sedang tidak baik-baik saja, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah berani mengakui kenyataan tersebut. Dari kejujuran itulah perbaikan bisa dimulai.
Metro tidak membutuhkan kebisingan buzzer. Metro membutuhkan pikiran jernih, hati yang terbuka, dan komitmen bersama untuk memperbaiki keadaan.
Sebab pada akhirnya, masa depan kota ini bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak di ruang digital, tetapi oleh siapa yang benar-benar mau bekerja dan berpikir jujur demi kepentingan masyarakatnya.