RADAR BERITA, Mesuji – Situasi panas yang selama ini membara di tengah masyarakat akhirnya meledak. Pondok Pesantren Nurul Jadid di Desa Tanjung Mas Jaya, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, menjadi sasaran amuk massa hingga berujung pembakaran dan perusakan besar-besaran, Kamis (14/05/2026).
Di tengah kobaran api dan kepanikan warga, aparat Satreskrim Polres Mesuji bergerak cepat dan mengamankan seorang pria berinisial AB yang kini resmi ditetapkan sebagai tersangka utama pembakaran.
Kasat Reskrim Polres Mesuji, Muhammad Prenata Al Ghazali, mengatakan tersangka diduga kuat tertangkap tangan saat melakukan aksi pembakaran menggunakan pertalite yang dibawa dalam botol air mineral kecil.
“Saat diamankan, tersangka memegang botol air mineral berisi pertalite yang diambil dari tangki sepeda motornya sendiri,” tegas AKP Prenata.
Polisi saat ini masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap tersangka dan sejumlah saksi untuk membongkar kemungkinan keterlibatan pelaku lainnya dalam aksi brutal tersebut.
Aksi massa diduga dipicu kekecewaan mendalam terhadap penanganan dugaan kasus asusila yang menyeret pemilik pondok pesantren berinisial MFS.
Warga menilai kasus yang sempat menghebohkan itu berjalan tanpa kepastian hukum hingga memunculkan kemarahan berkepanjangan.
MFS sebelumnya diduga terlibat kasus asusila terhadap sejumlah santriwati. Namun perkara tersebut dinyatakan tidak dapat dilanjutkan karena dianggap telah kedaluwarsa sesuai Pasal 74 KUHP lama. Selain itu, laporan korban juga diketahui telah dicabut pada tahun 2025.
“Kedua belah pihak sebelumnya sepakat mencabut laporan. Secara hukum perkara tersebut sudah tidak bisa diproses lagi,” ujar AKP Prenata.
Kondisi itulah yang disebut menjadi pemantik kemarahan warga. Apalagi setelah MFS dikabarkan kembali ke Mesuji usai meninggalkan daerah tersebut selama sekitar satu tahun dan disebut hendak kembali mengaktifkan kegiatan pengajian.
Amarah warga pun tak terbendung. Massa merusak sejumlah fasilitas pondok pesantren sebelum akhirnya api melahap bangunan utama.
Rumah milik MFS juga ikut dibakar hingga mengalami kerusakan parah mencapai sekitar 80 persen.
Pantauan di lokasi, aparat kepolisian masih berjaga ketat untuk mencegah aksi susulan. Polisi memastikan penyelidikan terus dikembangkan guna memburu pihak-pihak lain yang diduga ikut terlibat dalam kerusuhan tersebut.
Meski suasana Desa Tanjung Mas Jaya kini mulai mereda, peristiwa ini menjadi sinyal keras bahwa bara kekecewaan masyarakat dapat berubah menjadi ledakan kemarahan ketika hukum dianggap berjalan lamban dan kehilangan kepercayaan publik. ( Red / AN / Eko )