-->
Radar Berita

Aktual Tajam Terpercaya

🔵 RADAR BERITA
⚡ RADAR BERITA — Aktual • Tajam • Terpercaya || Menyajikan Informasi Cepat, Akurat, dan Berimbang Seputar Politik, Hukum, Pemerintahan, Kriminal, dan Sosial Masyarakat || Informasi Iklan & Peliputan Hubungi WA 081279352944 •

Terkini

Dari Keraton ke Medan Perjuangan, Kisah Besar RM Said Sang Pendiri Mangkunegara

2026/06/16, Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T02:04:13Z

Oleh : Yudha Saputra ~ Trah MN I

Di antara deretan tokoh besar dalam sejarah Jawa, nama RM Said atau yang kemudian dikenal sebagai KGPAA Mangkunegara I menempati tempat yang istimewa. Ia bukan hanya seorang bangsawan keturunan raja, tetapi juga seorang pejuang yang ditempa oleh penderitaan, pengorbanan, dan keteguhan hati hingga akhirnya dikenang sebagai Pangeran Sambernyawa.

RM Said lahir di Kraton Kartasura pada 7 April 1725. Sebagai cucu Sinuhun Amangkurat IV, masa depannya semestinya penuh kemuliaan. Namun takdir berkata lain. Sejak kecil ia harus menghadapi kenyataan pahit. Ibundanya wafat saat ia masih belia, sementara ayahandanya dibuang ke Srilanka akibat intrik politik dan fitnah yang melanda istana. Rumah keluarganya dibakar, harta bendanya dijarah, dan dirinya bersama kedua adiknya hidup dalam keterbatasan.

Meski berasal dari darah raja, RM Said tumbuh tanpa kemewahan. Ia hidup bersama para abdi dan panakawan keraton, merasakan langsung kehidupan rakyat kecil. Pengalaman itulah yang kelak membentuk watak kepemimpinannya yang dekat dengan rakyat dan memahami penderitaan masyarakat.

Titik balik hidupnya terjadi ketika ia menjabat sebagai Mantri Gandek di Kraton Kartasura. Merasa kedudukannya tidak sepadan dengan pengabdian dan garis keturunannya, RM Said menghadap ke Kepatihan untuk memohon kenaikan pangkat. Namun harapan itu berakhir dengan kekecewaan. Ia tidak mendapat jawaban yang layak, bahkan hanya diberikan sekantung uang dan diminta meninggalkan kepatihan.

Peristiwa tersebut sangat melukai harga dirinya. Dengan hati yang pedih, RM Said meninggalkan tempat itu. Kantung uang yang diterimanya bahkan ditinggalkan begitu saja di dekat gerbang. Baginya, kehormatan tidak dapat ditukar dengan harta benda.

Sejak saat itulah RM Said memutuskan meninggalkan Kartasura. Bersama kedua adiknya, para sahabat, dan pengikut setianya, ia menuju Nglaroh. Di daerah itulah semangat perjuangan mulai tumbuh. Ia menghimpun rakyat, melatih keprajuritan, membangun kekuatan, serta menjalani berbagai laku prihatin untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Dari Nglaroh, perjuangan RM Said semakin besar. Ia memimpin pasukan rakyat melawan berbagai ketidakadilan dan dominasi VOC yang saat itu semakin kuat mencengkeram tanah Jawa. Berkali-kali ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hidup di hutan, pegunungan, dan pedalaman. Bersama keluarga dan para pengikutnya, ia menghadapi kelaparan, kejaran musuh, serta berbagai kesulitan yang nyaris tak terbayangkan.

Namun semua ujian itu tidak pernah memadamkan semangatnya. Justru dari penderitaan tersebut lahir seorang pemimpin tangguh yang disegani lawan dan dicintai pengikutnya. Karena keberaniannya dalam berbagai pertempuran, RM Said kemudian dikenal dengan julukan "Pangeran Sambernyawa", sebuah gelar yang mencerminkan kegigihan dan keberaniannya di medan perang.

Dalam perjalanan perjuangannya, RM Said juga memperoleh banyak pelajaran hidup dari para ulama dan tokoh spiritual. Ia menjalani tapa brata dan semedi untuk memperkuat jiwa serta keyakinannya. Dari proses itulah lahir keteguhan hati yang menjadi fondasi perjuangannya selama bertahun-tahun.

Perlawanan yang dipimpinnya berlangsung begitu lama hingga akhirnya VOC dan para penguasa Mataram menyadari bahwa jalan peperangan hanya akan membawa kerugian yang lebih besar. Melalui berbagai perundingan, RM Said akhirnya memperoleh pengakuan atas perjuangannya.

Puncaknya terjadi pada tahun 1757 ketika melalui Perjanjian Salatiga, RM Said diakui sebagai Kanjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara dan mendirikan pemerintahan Mangkunegaran di Surakarta. Sebuah pencapaian besar yang lahir bukan dari warisan kekuasaan, melainkan dari perjuangan panjang yang penuh pengorbanan.

Meski telah mencapai kedudukan tinggi, Mangkunegara I tidak melupakan nilai-nilai yang membentuk dirinya. Ia mewariskan falsafah Tri Dharma yang hingga kini masih dikenang, yakni Mulat Sarira Hangrasa Wani (berani mawas diri), Rumangsa Melu Handarbeni (merasa ikut memiliki), dan Wajib Melu Anggondheli (berkewajiban ikut menjaga dan membela).

Kisah RM Said mengajarkan bahwa kebesaran tidak selalu lahir dari kemudahan. Terkadang, justru penderitaan, penghinaan, dan perjuangan panjanglah yang membentuk seorang manusia menjadi tokoh besar dalam sejarah.

Dari seorang pangeran yang pernah merasa terpinggirkan di keraton, RM Said menjelma menjadi pendiri Mangkunegaran dan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Jawa. Namanya terus dikenang sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan pengabdian kepada rakyat serta tanah air.
Komentar

Tampilkan